Undermining Conflict : Perusahaan -perusahaan pertambangan Australia di Indonesia

0
626

Lian Sinclair

PhD Candidate

Asia Research Centre, Murdoch University

Abstrak

Meskipun sudah dua dekade lebih perbaikan (reformasi) dalam tata kelola dampak lingkungan dan sosial pertambangan, namun dalam perkembangan tambang masih terdapat banyak konflik serius. Perusahaan-perusahaan dan negara-negara melancarkan beberapa strategi untuk menyelesaikan, mendepolitisasi, serta menyembunyikan konflik. Terutama adalah dengan versi CSR (Corporate Social Responsibility) yang partisipatif: program-program pengembangan masyarakat (comdev), konsultasi, kompensasi, sosialisasi, dan pengelolaan lingkungan dengan berusaha melibatkan masyarakat yang terdampak oleh pertambangan melalui proses-proses manajemen korporat.

Di sini saya berfokus dengan pertanyaan: mengapa, bagaimana, dan dengan kondisi apakah masyarakat yang terdampak oleh pertambangan melawan keterlibatan dan/atau depolitisasi? Saya menggunakan Teori Konflik Sosial untuk memusatkan kontestasi politik dan sosial untuk sumber daya dan menganalisasi bagaimana kelompok-kelompok masyarakat membentuk aliansi-aliansi untuk berorganisir demi kepentingan mereka sendiri. A politics of scale (politik skala) juga penting karena konflik-konflik ini tidak hanya terjadi di tingkatan lokal tapi melintasi beberapa skala di mana konstelasi-konstelasi kesempatan yang berbeda tersedia.

Presentasi ini menyajikan hasil awal dari penelitian lapangan kerja S3 saya di tiga lokasi: tambang pasir besi di Kulon Progo; tambang emas Kelian di Kutai Barat yang sudah lama tutup; dan tambang emas Gosowong yang dimiliki oleh Newcrest Mining Ltd di Halmahera Utara. Bersama, tiga kasus ini menunjukkan bahwa kepemilikan tanah, relasi produksi, bentuk organisasi, struktur aliansi-aliansi, dan ideologi; seluruhnya adalah faktor-faktor penentu penting dalam bagaimana masyarakat lokal memutuskan untuk melawan, menerima, atau meng-kooptasi strategi-strategi perusahaan pertambangan.