Tenggelamkan Kampung dan Sawah demi Infrastruktur: Pembangunan Waduk Jatigede dan Dalih Kesejahteraan Rakyat

0
512
©Viva.co.id

Kebijakan pembangunan ekonomi, khususnya pembangunan waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, diindikasikan akan menghasilkan angka pertumbuhan yang baik—tapi bukan berarti menaikkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di sekitar proyek pembangunan besar. Pemikiran Arthur Lewis (2008) tentang pertumbuhan ekonomi mengatakan, pertumbuhan hanya dapat bertumpu pada produktivitas yang relatif bergantung pada keberadaan jumlah tenaga kerjanya.

Namun, pada kenyataannya, pertumbuhan di beberapa pengalaman hanya dilihat dari kondisi surplus yang tidak penting itu milik siapa, sehingga ciri-cirinya adalah jika secara agregat terindikasi kenaikan angka pertumbuhan, maka tidak akan demikian jika dilihat dari masing-masing individu. Di dalam wacana kapitalisme, ketika upah buruh naik, tidak sama dengan terjadi penurunan angka kemiskinan, bahkan akan terus memperparah kondisi ketimpangan upah.

Sekilas yang dikatakan Lewis di atas bisa saja terjadi sebagai dampak dari pembangunan waduk Jatigede. Karena walaupun tertulis bahwa akan menanggulangi masalah banjir, yang sekaligus akan mengatasi krisis air dan listrik di wilayah sekitarnya, pembangunan waduk Jatigede sesungguhnya hanya menargetkan stabilitas angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada akhir rentang 2011-2025. Paling tidak, bisa diurai satu per satu mengapa fenomena itu bisa terjadi, dengan melihat pelaksanaan pembangunan waduk ini, dilihat dari sisi peran negara dalam pembangunan ekonomi dan melihat lebih jauh tentang konsep pertumbuhan yang dianut dalam pelaksanaan MP3EI.

Kedua hal tersebut, peran negara dan konsep pertumbuhan, menjadi kerangka analisis untuk melihat kasus pembangunan waduk Jatigede dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi Indonesia. Silakan unduh dan baca lebih lanjut kertas kerja Lina Marlina, Rahmi Indriyani, dan Hilma Safitri, berjudul “Tenggelamkan Kampung dan Sawah demi Infrastruktur: Pembangunan Waduk Jatigede dan Dalih Kesejahteraan Rakyat”.

WP 11-KAPPOB-1-2017 Jatigede dan Dalih Kesejahteraan – LM-RI-HS_2

*) Tulisan ini awalnya adalah makalah yang disampaikan pada Simposium Internasional ke-6 Jurnal Antropologi Indonesia, bertema “Post-Reform Indonesia: The Challenge of Social Inequalities and Inclusion”, di FISIP Universitas Indonesia, Depok, 25-28 Juli 2016. Satu deskripsi lengkap tentang kondisi empiris rencana pembangunan waduk Jatigede, telah diterbitkan oleh ARC dalam bentuk kertas kerja tersendiri oleh Rohman, Lina Marlina, dan Rahmi Indriyani (2016), Pembangunan Dam Jatigede: Beberapa Catatan Awal ARC, ARC Working Paper No. 001/Agustus 2016, Bandung: ARC Books.