Seri Diskusi Bulanan Agrarian Resource Center ‘Batjaan Liar’: Dari Dialog Epistemik ke Politik Emansipasi

0
192

Batjaan liar‘ merupakan istilah yang baru dikenal dalam kurun awal abad ke dua puluh. Kolonialisme Belanda memisahkan secara tegas antara ‘batjaan layak‘ dan ‘batjaan liar.’ Melalui Commissie voor de Inlandsche School en Voklslectuur yang dalam perkembangannya menjadi Balai Pustaka, rezim kolononial mendefinisikan dan memproduksi berbagai ‘batjaan-batjaan yang layak’ bagi pribumi. Sementara, label ‘batjaan liar’ digunakan untuk menyebut semua literatur yang dianggap berisi hasutan kebencian yang umumnya diproduksi oleh Commissie Batjaan Hoofdbestuur dan kaum pergerakan. Hilmar Farid dan Razif menandai fase dalam historiografi bangsa kita sebagai ‘perang soeara’.

Dalam mengamati pertentangan ini, bahan bacaan dan institusi yang memproduksinya tidak hanya dilihat secara teknis sebagai urusan cetak mencetak, melainkan perlu ditempatkan di dalam perkembangan ekonomi-politik dan pertentangan nyata dari mode produksi umum (general mode of production). Kedua kekuatan, baik yang dipelopori oleh pemerintahan kolonial atau pun kaum pergerakan, terbentuk di dalam suatu relasi produksi kapitalisme yang masih berkembang dan memanfaatkan teknologi mesin cetak. Walupun keduanya sama-sama menyasar rakyat pribumi, keduanya punya interpretasi yang bertentangan tentang bagaimana rakyat pribumi akan menuju.

Berbeda dengan pemerintah kolonial yang ingin menciptakan diskursus untuk menegakkan kepentingan rush en orde, ‘Batjaan liar‘ berusaha untuk menyorot pengalaman ketidakadilan dan penindasan yang dihadapi oleh rakyat di Hindia Belanda. Semaoen, seorang tokoh pergerakan di masa kolonial, menyebutkan tujuan memilih, menerbitkan dan menyebarluaskan bacaan-bacaan tersebut diantaranya: Pertama, untuk menghapuskan hubungan-hubungan sosial lama yang telah usang yang tetap dipertahankan oleh kekuasaan kolonial. Kedua, bacaan-bacaan ini melakukan oposisi untuk melawan dominasi penerbitan barang-cetakan yang diproduksi oleh Balai Pustaka. Dalam hal ini, ‘batjaan liar‘ berusaha mengartikulasikan kesadaran politik rakyat yang di dalamnya semangat anti-kolonialisme akan megalir dengan deras.

Dalam kondisi yang sama mengenaskannya, kita kembali diperhadapkan pada suatu kondisi yang tidak kalah buruknya saat wilayah Indonesia masih menjadi negeri koloni Belanda. Selain menciptakan ketidakadilan dalam masalah ekonomi, kapitalisme juga merampas kesadaran yang seolah-olah kita dibawa pada kondisi yang menjadi jargon kelompok Mont Pelerin Society, ‘there is no alternative.’ Tetapi, ini jelas salah, karena semakin sistem ini menguniversalkan dirinya, keretakan dan kontradiksi internalnya semakin mengemuka. Untuk itu, kita membutuhkan peralatan ideologis yang dapat mengurai kebingungan untuk menangkap keretakan sistem yang ada di tengah hipokritnya rezim neoliberal yang membungkam ekspresi politik rakyat. Berpijak pada semangat yang sama, program ‘batjaan liar’ berambisi untuk merintangi segala penghambat gerakan, utamanya produksi pengetahuan bagi teruwujudnya utopia pengorganisiran hidup yang lebih setara dan lebih adil untuk semua.

Teks oleh Sutami Amin

Referensi:

Foulcher, Keith. (2020). Komitmen Sosial dan Seni: Sejarah Lekra 1950-1965. Bandung: Pustaka Pias.

Farid, Hilmar. (1991) Kolonialisme dan Budaya: Balai Poestaka di Hindia Belanda. Jurnal Prisma Edisi 10.

Farid, Hilmar., Razif. (2008). Batjaan liar in the Dutch East Indies: a Colonial Antipode. Postcolonial Studies, 11:3, 277-292.