Metabolic Rift dan Perubahan Sosio-Ekologis di Kawasan Gambut

0
94

Kapitalisme membawa rift (keretakan) dalam metabolisme, suatu proses pertukaran material antara manusia dan alam yang direalisasikan melalui “kerja” (Marx 1976: 198, 283 & 638). Pada moda produksi kapitalis, hubungan sosial produksi hadir hanya untuk akumulasi yang terjadi akibat ekstraksi “tenaga kerja” dan alam, serta proses alienasi satu sama lain. “Produksi kapitalis hanya mengembangkan teknik dan kombinasi dalam proses sosial produksi yang sekaligus meninggalkan sumber kekayaan itu sendiri—tanah dan manusia” (Marx 1976: 638).

Pemanfaatan tanah untuk pertanian dalam moda produksi kapitalisme merupakan aktivitas yang tidak hanya mengambil secara paksa tenaga buruh, tetapi juga kandungan-kandungan unsur hara dari tanah yang mempengaruhi pemulihan kesuburan, yang berujung pada proses penghancuran dari sumber-sumber jangka panjang atas kesuburan tanah itu sendiri (Marx 1976: 638). Hasilnya adalah rift (keretakan) yang tidak dapat diperbaiki dalam siklus “metabolisme”. Secara simultan keretakan-keretakan tersebut menghasilkan perubahan ekologi dan pemiskinan buruh (Marx 1981: 949).

Masyarakat di Bapinang Hilir, Kotawaringin Timur, Prov. Kalimantan Tengah, terikat pada relasi produksi kapitalis dan hidup pada areal gambut yang khas—tempat perubahan ekologi dan kegiatan ekonomi saling mempengaruhi. Rift dalam siklus metabolisme yang terjadi daerah tersebut beroperasi pada level alokasi penguasaan sumber daya dan relasi produksi. Keduanya merupakan fenomena ekonomi politik. Karenanya, ekonomi politik menjadi pisau analisis dalam membedah relasi produksi komoditas kapitalis dan perubahan ekologi dalam kerangka metabolic rift.

Namun, bagaimana metabolic rift dalam kerangka ekonomi politik itu diaplikasikan pada kajian agraria kritis, khususnya di kawasan gambut? Untuk itulah Agrarian Resources Center (ARC) menggelar diskusi bertema “Metabolic Rift dan Perubahan Sosio-Ekologis di Kawasan Gambut” yang akan dilaksanakan pada,

hari Kamis, 27 Agustus 2020,
jam 14.00-17.00 WIB,
di Sekretariat ARC (Jl. Ski Air, No. 20, Arcamanik, Bandung).

Diskusi yang akan diselenggarakan secara luring dan daring ini terbuka untuk umum tapi terbatas. Peserta diskusi luring dibatasi hingga 10 orang dan harus mengikuti protokol kesehatan Sekretariat ARC. Sedangkan diskusi daring, terbatas bagi 15 peserta. Untuk berpartisipasi dalam diskusi, baik secara luring maupun daring, calon peserta harus mengisi form pendaftaran melalui pranala ini: bit.ly/DISKUSI-MR-ARC.

Untuk konfirmasi dan informasi lebih lanjut, silakan hubungi WhatsApp ARC (0895-3765-58219).

Tabik!
Agrarian Resources Center (ARC)