Siaran Pers: Warga Dago Elos Menang di Tingkat Kasasi Melawan Keluarga Muller dan PT Dago Inti Graha

0
173
Konferensi pers warga Dago Elos, 24 Juli 2020. Sumber: Twitter @AJIBdg

Perjuangan warga Dago Elos melawan rencana penggusuran oleh keluarga Muller dan PT Dago Inti Graha menemui titik terang. Warga Dago Elos memenangkan gugatan perdata di tingkat kasasi. Mahkamah Agung menyatakan bahwa klaim tanah oleh keluarga Muller dan PT Dago Inti Graha ditolak karena eigendom verponding keluarga Muller tidak dikonversi dan tidak didaftarkan.

Pada intinya, keluarga Muller dan PT Dago Inti Graha tidak menguasai tanah, karenanya prioritas meningkatkan status hak atas tanah tidak diberikan pada mereka. Terlebih, warga Dago Elos sudah menguasai tanah tersebut dalam kurun waktu yang lama, secara terus menerus, dan sebagian sudah diberikan sertifikat hak milik.

Sebagai informasi, keluarga Muller yang menggugat warga Dago Elos adalah Heri Hermawan Muller, Dodi Rustendi Muller, dan Pipin Sandepi Muller. Ketiganya keturunan dari George Hendrik Muller, seorang warga Jerman yang pernah tinggal di Bandung pada masa kolonial Belanda. Ketiganya kini sudah menjadi warga negara Indonesia. Mereka mengklaim bahwa tanah seluas 6,3 hektar di Dago Elos sudah diwariskan kepada mereka.

Tanah itu diklaim berasal dari Eigendom Verponding atau hak milik dalam produk hukum pertanahan kolonial Belanda. Tanah seluas 6,3 ha itu terbagi dalam tiga Verponding: nomor 3740 seluas 5.316 meter persegi, nomor 3741 seluas 13.460 meter persegi, dan nomor 3742 seluas 44.780 meter persegi. Sertifikat tanah itu dikeluarkan oleh Kerajaan Belanda pada 1934.

Semula, di atas tanah itu berdiri pabrik NV Cement Tegel Fabriek dan Materialen Handel Simoengan atau PT Tegel Semen Handeel Simoengan, tambang pasir, dan kebun-kebun kecil. Kini kondisinya sudah berbeda jauh. Di atas lahan itu kini ada kantor pos, Terminal Dago, dan didominasi oleh rumah-rumah warga RT 01 dan 02 dari RW 02 Dago Elos. Meski demikian, tidak seluruh warga RW 02 menempati lahan 6,3 ha yang diklaim keluarga Muller.

Gugatan keluarga Muller yang oleh warga terkesan mendadak memunculkan pertanyaan: Mengapa baru sekarang? Tak ada jawaban yang memuaskan bagi kami. Gugatan keluarga Muller muncul pada saat yang hampir bersamaan dengan kebutuhan tanah apartemen The MAJ. Rupanya Muller bersaudara tidak sendiri. Ia menggugat bersama PT Dago Inti Graha, sebuah perusahaan properti di Bandung.

Berdasarkan Putusan Kasasi Nomor 934.K/Pdt/2019, hakim Mahkamah Agung mempertimbangkan bahwa eigendom verponding atas nama George Henrik Muller sudah berakhir karena tidak dikonversi paling lambat tanggal 24 September 1980. Hal tersebut menegaskan bahwa klaim tanah atas nama keluarga Muller tidak dapat mengalihkan ataupun mengoperkan tanah di Dago Elos—yang sejatinya telah jelas dikuasai sebagai tempat tinggal warga—kepada PT Dago Inti Graha.

Bandung, 24 Juli 2020
Aliansi Rakyat Anti Penggusuran (ARAP)