Capitalist Expansion, COVID-19, and the Misery of Papuans

0
107
Kampung Asmat di Merauke. Sumber: Penulis.

Pemerintah Provinsi Papua merupakan satu dari beberapa wilayah di Indonesia yang secara cepat menerapkan “pembatasan lokal” saat masa awal pandemik Covid-19. Pemerintah membatasi mobilitas masyarakat dari dan menuju Papua dengan menutup seluruh rute transportasi (kecuali lalu lintas pengiriman barang untuk beberapa urusan penting) dan menerapkan pembatasan sosial sejak 26 Maret 2020 hingga 4 Juni 2020.

Pemerintah Papua menyadari tantangan yang mereka hadapi sejak awal. Layanan kesehatan yang tidak memadai, tenaga kesehatan yang minim, akses jalan yang buruk, dan fasilitas kesehatan untuk menangani pasien Covid-19 yang terbatas. Kendati telah mengambil langkah-langkah penting, Papua tetap bertengger di 10 besar provinsi yang memiliki kasus Covid-19 terbanyak (2.027 kasus pada awal Juli 2020).

Kasus terbanyak ada di Kabupaten Mimika. Penyebarannya berasal dari Distrik Tembagapura, wilayah operasi korporasi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia, PT Freeport Indonesia. Akhir Mei, 124 pekerja perusahaan positif terinfeksi corona. Pemerintah pusat tidak menanggapi permohonan penutupan sementara aktivitas pertambangan yang diajukan Bupati Mimika untuk mencegah penyebaran virus. Aktivitas Freeport terus berjalan seakan tidak ada masalah.

Presiden Joko Widodo lebih memprioritaskan stabilitas ekonomi ketimbang kesehatan masyarakat. Hal itu terlihat dari penerapan lockdown versi soft (Pembatasan Sosial Berskala Besar, PSBB), menerbitkan empat instruksi terkait penanggulangan dampak pendemik terhadap sektor fiskal dan moneter, serta merelaksasi PSBB melalui “new normal” saat kurva kasus positif Covid-19 masih menanjak.

Di samping ambiguitas regulasi pemerintah pusat atas perusahaan-perusahaan berbasis sumber daya alam di Papua, masyarakat adat kini menghadapi masalah lain. Pandemik memperparah kehidupan masyarakat adat yang sebelumnya telah termajinalisasi, rentan, miskin, dan penuh ketidakpastian, akibat proses pembangunan ekonomi.

Baca lebih lanjut artikel Rasella Malinda, peneliti di Yayasan Pusaka Bentala Rakyat dan alumni Sekolah Agraria Kritis ARC 2019, di pranala berikut: Rasella Malinda, “Capitalist Expansion, COVID-19, and the Misery of Papuans”, CSEAS NEWSLETTER, 78: TBC, Juli 2020.