Pelatihan Critical Agrarian Studies Indonesia (CASI) 2016 – Kelas Lanjutan – 25 – 27 Januari 2017

0
846

E. Suryana

Agrarian Resources Center (ARC) telah melaksanakan Pelatihan Critical Agrarian Studies Indonesia (CASI) 2016 Kelas Lanjutan pada tanggal 25 hingga 27 Januari 2017. Kelas lanjutan ini merupakan sambungan dari Training CASI “penelitian sosial tingkat dasar” tahun 2016 yang dibagi dalam kelas A yang berlangsung pada 12 Maret hingga 16 April 2016 serta kelas B yang telah dilaksanakan pada 13-18 Juni 2016. Dengan demikian Pelatihan CASI 2016 Kelas Lanjutan merupakan upaya untuk secara lebih utuh melengkapi para peserta CASI pada tahap sebelumnya dengan pengetahuan teori dan konsep studi kritis agraria. Adapun para peserta Pelatihan CASI 2016 Kelas lanjutan sebanyak 25 orang, dari peserta Pelatihan CASI 2016 tahap sebelumnya sebanyak sembilan (9) orang, sedangkan 16 peserta lainnya merupakan undangan yang turut serta karena berminat dan mendaftar untuk menjadi peserta Pelatihan tersebut yang berasal dari beberapa lembaga, yaitu Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Sunspirit for Justice and Peace (SSP) Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur, Sajogyo Institut (SAINS) Bogor, dan Jaringan Kerja Rakyat (JKR) Yogyakarta serta beberapa individu lain yang tertarik untuk mendalami kajian kritis agraria.

casi 2016 01
Pelatihan CASI 2016 Kelas Lanjutan ini berlangsung selama tiga hari dengan materi yang cukup padat dengan tema utama “Transisi Agraria di Indonesia Masa Kini: Menyoal Jawaban-jawaban yang Tersedia” yang terdiri dari beberapa topik yaitu Transisi Agraria, Land Grabbing di Indonesia, serta Gerakan Sosial di Pedesaan Indonesia Pasca ’65. Tema utama dan topik-topik ini kemudian diberikan dalam beberapa materi/sub-materi selama pelatihan berlangsung dalam tiga hari.

Pada hari pertama pemberian materi berlangsung agak terlambat dari jadwal semula pada pukul 10.00 WIB sembari menunggu kehadiran peserta dari luar kota. Pada pukul 11.00 materi diawali dengan uraian tentang Critical Agrarian Studies Indonesia, bermula dari Agraria dan Kajian agraria, kajian agraria kritis dan mengapa kajian kritis agraria di Indonesia, diakhiri dengan gambaran peta umum ketimpangan penguasaan tanah di Indonesia. Pada awal materi dijelaskan mengenai tiga hal yang dikritisi yaitu struktur agraria/sosial, institusi dan aktor/agensi. Materi ini disampaikan oleh Hilma Safitri M.A pada bagian-bagian awal dan diakhiri penyampaian materi oleh Dianto Bachriadi P.Hd. Materi selanjutnya pada hari pertama yang disampaikan oleh Dianto Bachriadi, Ph.D. adalah Dari Petani ke Buruh: Transisi Agraria di Indonesia, dalam materi ini diuraikan mengenai Transisi Agraria, Pra Capitalist Versus Capitalist Agrarian Relations, Peasant Differentiation, Track of Agrarian Transition, Chayanov’s Peasant Versus Capitalist Farmer, diakhiri dengan sub materi transisi agraria di Indonesia: Menguatnya Kapitalisme Agraria di Indonesia Sejak Abad ke-19. Penyampaian materi berlangsung hingga malam hari dan diikuti dengan antusias oleh para peserta serta diselingi dengan tanya jawab dan diskusi antara pemateri dan peserta. Karena keterlambatan dari waktu yang dijadwalkan, padatnya materi, serta antusiasnya para peserta dalam bertanya mengenai isi materi yang disampaikan maka hari pertama hanya dapat disampaikan dua materi dari tiga materi yang dijadwalkan. Karenanya materi ‘Dari Buruh Tani dan Penggarap Ke Petani?: Quo Vadis Reforma Agraria di Indonesia’, ditunda penyampaian materinya pada keesokan harinya.

casi 2016 02
Hilma Safitri
casi 2016 03
Dianto Bachriadi

Setelah cukup beristirahat malam hari dan mengawali hari dengan sarapan pagi bersama, hari kedua pelatihan CASI 2016 Kelas Lanjutan dimulai pada pukul 10.00 dengan materi ‘Dari Buruh Tani dan penggarap ke petani?: Quo Vadis Reforma Agraria di Indonesia’. Adapun sub materi yang disampaikan adalah Reforma Agraria Dalam Konteks Transisi Agraria, Land Reform di Indonesia Tahun 60-an: Tujuan dan Visi Perubahan Sosialnya, Pembangunan Pedesaan Masa Orba: Penguatan Petani atau Sekedar Peningkatan Produksi Pertanian, Khususnya Pangan?; ‘Reforma Agraria’ Pasca Orba: Penguatan Petani Kecil?; Gerakan Reforma Agraria ‘Dari Bawah’: Mendorong Penciptaan Petani Kecil: Petani Kecil di Alam Kapitalisme?. Penyampaian materi ini diselingi dengan istirahat dan makan siang yang kemudian berlanjut hingga sekitar pukul 16.00 WIB.

Materi selanjutnya merupakan studi kasus perampasan tanah dengan presentasi pertama oleh Yudi Bachrioktora, staf pengajar Universitas Indonesia (UI) yang sedang menempuh program S-3 Antropologi di Universitas Bern Swiss, mengenai studi kasus proyek restorasi hutan di Jambi serta dilanjutkan dengan pemaparan oleh Sugiarto, penggiat advokasi agraria dan sedang menyelesaikan program S-2 Hukum Tata Negara di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, tentang studi kasus perampasan tanah oleh Kesultanan Yogyakarta. Dari paparan pertama dapat disaksikan model baru perampasan tanah yang dalam diskursus akademik dikenal dengan green grabbing, yaitu suatu perampasan tanah yang berlangsung dengan dalih proyek-proyek konservasi yang sesungguhnya terkait dengan berkembangnya skema-skema investasi dalam konservasi sebagai upaya ‘pengganti’ dan ‘tanggungjawab’ atas kerusakan lingkungan yang dilakukan korporasi. Pada presentasi kedua dipaparkan mengenai perubahan-perubahan situasi dan kondisi penguasaan tanah di Yogyakarta pasca lahirnya Undang-undang No. 13/2012 tentang Keistimewaan Yogyakarta dimana Kesultanan dan Pakualaman Yogyakarta mendapatkan alas legal formal bagi tanah yang seharusnya sudah hapus pada tahun 1984 berdasarkan UUPA dan beberapa peraturan lainnya. Klaim ini yang sekarang menyebabkan maraknya konflik-konflik agraria terkait dengan kepentingan investasi terutama di sektor infrastruktur dan pariwisata di Yogyakarta. Lebih jauh lagi klaim tanah tersebut menyebabkan kerancuan hukum pertanahan nasional yang harusnya mengacu pada alas hak yang diterbitkan berdasarkan UUPA ’60. Ini memperlihatkan suatu model perampasan atas tanah yang selama ini telah dikuasai dan dikelola rakyat dengan alas legal formal kebangkitan kembali kekuatan feodalisme lama yang sesungguhnya memiliki karakter di masa kini sebagai pengusung dan pengawal investasi proyek-proyek infrastruktur dan pariwisata. Dari presentasi dua kasus tersebut di atas, kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan materi Land grabbing. Materi penutup di hari kedua ini djelaskan mengenai pengertian Land Grabbing, Kemunculan Kapitalisme dan Sejarah Penjarahan Tanah Rakyat, Penjarahan Tanah Rakyat di Alam Kapitalisme Neoliberal, Jalur-jalur Penjarahan Tanah Masa Kini, serta Gambaran Umum Penjarahan Tanah di Indonesia Masa Kini.

casi 2016 04
Yudi Bachrioktora
casi 2016 05
Sugiarto

Pada hari ketiga, Materi pelatihan CASI 2016 Kelas Lanjutan adalah Gerakan Sosial Pedesaan (GSP) Indonesia Pasca-65. Dalam materi ini diterangkan mengenai pengertian ‘Gerakan Petani’ dan ‘Gerakan Sosial Pedesaan’, Karakter ‘Revolusioner’ Pada Petani, Gerakan Petani/Gerakan Sosial Pedesaan di Indonesia Pasca 65, Lima (5) Preposisi GSP di Indonesia Pasca 65, serta Transmutasi Gerakan Petani/Gerakan Sosial Pedesaan di Indonesia Pasca 65. Dalam penyampaian Materi hari ketiga diwarnai dengan diskusi yang cukup menarik antara pemateri dengan peserta terutama mengenai proses ‘menghilangnya’ gerakan sosial sebagai akibat dari diterima atau diadopsinya tuntutan gerakan sosial tersebut baik seluruhnya atau sebagian oleh negara atau lawannya, serta pendiskusian tentang pertukaran kepentingan diantara aktor-aktor gerakan sosial, dimana perlu dipikirkan mengenai strategi apa yang hendak ditempuh oleh sebuah gerakan sosial ke depannya agar tidak bertumpu pada pertukaran kepentingan.

casi 2016 06 casi 2016 07 casi 2016 08

 

 

 

 

Sebelum pelatihan ditutup, para peserta diminta untuk mengungkapkan kesan yang didapat selama proses pelatihan berlangsung. Dari kesan-kesan yang didapat pada umumnya peserta merasa cukup senang dapat mengikuti pelatihan ini sebagai proses belajar membuka wacana dan memahami studi kritis agraria, meskipun terasa cukup berat dengan penyampaian materi yang padat dan waktu yang terbatas. Acara kemudian ditutup dengan penyerahan sertifikat pelatihan serta cenderamata berupa buku-buku yang telah diterbitkan ARC kepada para peserta. Kegiatan ini akan diupayakan dijalankan secara reguler oleh ARC ke depannya dengan harapan untuk memperluas pemahaman tentang situasi dan kondisi agraria yang sedang berlangsung terutama di Indonesia.

casi 2016 09  casi 2016 10 casi 2016 11

 

 

 

 

casi 2016 12 casi 2016 13 casi 2016 14

 

 

 

 

casi 2016 15 casi 2016 16 casi 2016 17

 

 

 

 

 

casi 2016 18

casi 2016 19

Bandung, 3 Februari 2017, E. Suryana

File dapat diunduh di sini.