CASI Angkatan VIII: Sebuah Catatan Perjalanan

0
146
Peserta CASI 2022 menyimak materi dari pembicara. Foto oleh Frans Ari Prasetyo.

Agrarian Resource Centre (ARC) kembali menyelenggarakan Critical Agrarian Studies of Indonesia (CASI), yang tahun ini telah memasuki angkatan ke VIII. CASI merupakan  kegiatan tahunan ARC, yang bertujuan untuk memberikan pemahaman serta pengembangan analisa kritis dalam kajian agraria. Peserta CASI VIII terdiri dari Peneliti, Mahasiswa hingga Aktivis gerakan sosial yang tersebar di seluruh Indonesia. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 19 s/d 25 Juni 2022, dan sepenuhnya dilaksanakan secara tatap muka di Perpustakaan ARC, Bandung.

Dengan bekal pengalaman yang berbeda-beda dari masing-masing peserta, CASI VII merupakan kesempatan bagi saya dan peserta lainnya untuk bersama-sama mendalami masalah agraria dalam konteks transisi agraria di Indonesia. Selain itu, juga menganalisis praktik  “Pembangunan”, merefleksikan keberhasilan dan kegagalan dari berbagai-macam upaya perwujudan masyarakat Indonesia yang berkeadilan sosial.

Hari pertama, CASI VIII dibuka dengan sambutan hangat dari para Peneliti ARC, yang dilanjut dengan sesi perkenalan diantara panitia dengan peserta. Setelah itu, Dianto Bachriadi (Peneliti Senior ARC) membuka materi tentang apa yang sebenarnya dibicarakan ketika muncul istilah Agraria. Melalui “pertunjukkan” sebuah “teater agraria” dari Sambas. Materi tersebut berjudul “Gambut yang Diperebutkan: Sebuah Studi Kasus dari Sambas, Kalimantan Barat”. Dalam sesi tersebut, peserta diberikan gambaran bahwa aspek sosial dari ruang hidup manusia adalah area subjek dalam kajian agraria. Diskusi ini menjadi sesi pemanasan untuk menuju pemahaman bahwa kajian agraria memiliki keterkaitan dengan pemahaman struktur dan dinamika masyarakat pedesaan.

Setalah Dianto Bachriadi, kini giliran Peneliti Senior ARC lainnya, yaitu Hilma Safitri, memberikan penjelasan mengenai apa itu kajian agraria secara konseptual. Hal tersebut disampaikan dalam materi “Agraria, Kajian Agraria, dan Ekonomi Politik Agraria”. Tak berhenti disitu, Giovanni D. Austriningrum (Master dari Institute of Social Studies, The Hague) secara khusus memaparkan “Ketimpangan Penguasaan Lahan & Konflik Agraria di Indonesia”. Pemateri menunjukkan secara gamblang mengenai ketimpangan penguasaan lahan pada hari ini yang diakibatkan oleh injeksi kapital. Hal tersebut sejatinya tidak bisa dilepaskan dalam memahami struktur sosial-agraria di Indonesia.

Hari kedua, peserta diantarkan untuk melihat agraria sebagai realitas yang selalu berada dalam gerak kapitalisme. Dianto Bachriadi kembali memberikan materi dengan tema yang berbeda, yaitu “Logika Kapitalisme, Transisi Agraria, dan Pembentukan-Perluasan Sirkuit Kapital di Pedesaan & Perkotaan: Penjelasan Teoritik”. Dalam materi tersebut, peserta diajak melihat agraria dalam konteks transisi agraria. Kemudian, M. Izzuddin Prawiranegara (Peneliti ARC)  mengajak peserta untuk melihat gerak kapitalisme dalam konteks pedesaan, secara khusus kaum tani di pedesaan, melalui materinya yang berjudul “Transformasi Kaum Tani”.

Hari ketiga, Hilma Safitri secara detail menjelaskan suatu program politik yang memfasilitasi penataan ulang struktur agraria, yang bernama Reforma Agraria (RA). Penjelasan tersebut berjudul “Reforma Agraria dalam Transisi Agraria”. Setelah memahaminya secara teoritik, Peneliti sekaligus Koordinator ARC, Muhammad Syafiq mengajak peserta untuk memahami masalah Reforma Agraria di Indonesia, melalui materinya yang berjudul “Reforma Agraria di Indonesia”. Dua materi tersebut menunjukkan sebuah kecenderungan Reforma Agraria di Indonesia, pada hakikatnya sama sekali tidak bertujuan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia yang revolusioner.

Hari Keempat, Arianto Sangadji, PhD dari Human Geography, York University, Toronto,  memperlihatkan bahwa relasi sosial kapitalis mengarahkan dirinya sendiri pada konsekuensi logisnya yakni krisis-krisis kapitalis yang tak terhindarkan hingga memunculkan bentuk neoliberalisme. Hal itu, disampaikan dalam materi yang berjudul “Kapitalisme dan Neoliberalisme”. Melanjut materi tersebut, Fathun Kharib yang merupakan salah seorang peraih gelar PhD, dari Binghamton University, New York, menjelaskan tentang cara kerja Kapitalisme dalam sektor ekstraktif. Penjelasan ini ia beri judul “(NEO)Ekstraktivisme: Pemahaman dan Kritik Sistem Dunia”.

Hari kelima, Giovanni D. Austriningrum mengajak peserta untuk mendiskusikan makna pembangunan, juga mempertanyakan apakah kapitalisme modern itu memang ‘alamiah’?. Materi yang disampaikan berjudul, “Developmentalism & Capitalism”. Pada sesi materi ini juga, peserta dibagi ke dalam sejumlah kelompok untuk mendiskusikan secara lebih interaktif terkait model lain (alternatif) pembangunan. Setelahnya, Rizki Maulana Hakim (Peneliti ARC) membahas materi “Land Grabbing (Pencaplokan Lahan): Konsep dan Praktiknya di Indonesia”, di mana fenomena pencaplokan lahan akan terus berlangsung di negara “finance poor-rich resource” seperti Indonesia sebagai konsekuensi logis dari berlangsungnya gerak kapitalisme.

Hari kelima terdapat sesi tambahan, yakni sesi diskusi diantara peserta, yang bertujuan untuk menganalisis Reforma Agraria di Indonesia melalui kacamata Transisi Agraria. Dalam diskusi tersebut, peserta dibagai menjadi sejumlah kelompok diskusi kecil. Diskusi tersebut berlangsung secara dialektis dan kritis. Hasilnya, setiap kelompok kecil berkewajiban untuk menjelaskan hasil analisisnya kepada kelompok lainnya secara bergantian.

Hari keenam, bersama Mario Iskandar (Peneliti ARC), mengajak para peserta untuk seharian penuh memikirkan gerakan sosial. Iskandar (sapaan akrabnya), menyampaikan dua materi. Pertama, “Dari Gerakan Tani ke Gerakan Sosial Pedesaan”. Peserta diarahkan untuk membedakan gerakan kaum tani dengan gerakan sosial pedesaan lainnya, yang sama-sama bertumpu pada isu-isu di pedesaan. Kedua, “Gerakan Sosial Pedesaan di Indonesia Pasca-65”. Secara khusus, pemateri menjelaskan bagaimana karakter gerakan sosial pedesaan pada era neoliberalisme. Selain itu, para peserta juga berbagi pengalaman dan refleksi empirisnya terutama di era pasca-reformasi.

Hari terakhir, CASI VIII dipungkasi dengan penjelasan padat mengenai gerakan sosial, sebagai jalan bagi perubahan sosial yang radikal, menuju masyarakat Indonesia baru. Hari itu diawali dengan nonton bareng (nobar) film Movimento dos Trabalhadores Rurais Sem Terra (MST), Brazil dan refleksi bersama peserta tentang gerakan sosial.

Setelah nobar dan refleksi, Dianto Bachriadi menyampaikan materi berjudul “Tanah adalah Awal, Bukan Akhir: Gerakan Pendudukan Tanah dan Gerakan Sosial untuk Reforma Agraria”. Pada sesi ini, secara khusus mempelajari mengenai gerakan pendudukan tanah. Mencontoh dari gerakan MST di Brazil dan kemudian diperbandingkan dengan yang terjadi di Indonesia. Masih bersama dengan Dianto Bachriadi, materi CASI VIII ditutup dengan penjelasan yang berjudul “Gerakan Sosial dan Transisi Sosialisme”. Pada sesi ini, refleksi tentang gerakan sosial dan perjuangan reforma agraria, dibahas dan diletakkan dalam kerangka revolusi sosialisme, sebab perjuangan kita sekarang adalah melawan kolonialisme modern dan imperialisme.

Mengenai kegiatan CASI VIII, begitu banyak hal yang tak terkatakan olehku sebagai peserta. Namun, beberapa kesan kegiatan ini adalah, semakin jelas orientasi saya selepas CASI VIII untuk mendalami pemahaman agraria kritis serta menentukan langkah-langkah perjuangan yang perlu diambil. Tak kalah penting, saya berterima kasih kepada kawan-kawan panitia dan peserta, serta semua yang terlibat dalam berjalannya CASI tahun ini. Mengikuti kegiatan ini akan selalu menjadi salah satu pengalaman yang bermakna bagi saya, ketika dapat merasakan kesatuan hati bersama kawan-kawan dalam permenungan gerakan sosial di Indonesia.

 

Penulis: Andini Putri Atika (Peserta CASI VIII)