Resensi General Lecture: “Ecosocialisme & Degrowth Communism: Memahami Pemikiran Kohei Saito” oleh Dianto Bachriadi
Pendahuluan
Krisis ekologis menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia saat ini. Perubahan iklim, degradasi lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga meningkatnya ketimpangan sosial menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari sistem ekonomi dan pembangunan. Selama beberapa dekade, berbagai solusi seperti sustainable development, green economy, dan green growth ditawarkan untuk menjawab krisis tersebut. Namun, berbagai pendekatan tersebut juga menuai kritik karena dinilai belum menyentuh akar persoalan, yakni logika pertumbuhan ekonomi kapitalisme.
Di tengah perdebatan tersebut, pemikiran Kohei Saito memberikan sudut pandang baru yang lebih luas dan kritis. Melalui karya-karyanya seperti Karl Marx’s Ecosocialism, Marx in the Anthropocene, dan Slow Down, Saito menawarkan pembacaan baru terhadap pemikiran Marx dengan menempatkan persoalan ekologi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kritik terhadap kapitalisme. Dari reinterpretasi tersebut, ia mengembangkan gagasan Ecosocialism dan Degrowth Communism sebagai alternatif untuk membayangkan kembali hubungan antara manusia, alam, dan sistem produksi.
Gagasan inilah yang menjadi fokus kuliah umum “Ecosocialism & Degrowth Communism: Memahami Pemikiran Kohei Saito” yang disampaikan oleh Dianto Bachriadi, atau yang akrab kita sapa Kang Gepeng, dalam pelatihan Critical Agrarian Studies Indonesia (CASI) Batch 12. Melalui pemaparan yang sistematis, Kang Gepeng tidak hanya menjelaskan pemikiran Saito, tetapi juga menunjukkan bagaimana reinterpretasi terhadap Marx membuka perspektif baru dalam memahami krisis ekologis, kapitalisme, dan kemungkinan bentuk-bentuk transformasi sosial di masa depan.
Tulisan ini merupakan resensi sekaligus refleksi atas kuliah umum tersebut. Selain merangkum gagasan utama yang disampaikan, tulisan ini juga mendiskusikan kontribusi pemikiran Kohei Saito terhadap kajian agraria kritis, sekaligus merefleksikan bagaimana pendekatan yang ditawarkan mendorong pembaca untuk melihat kembalihubungan antara pembangunan, transformasi agraria, dan krisis ekologis secara lebih kritis.
Mengapa Kohei Saito penting?
Salah satu kontribusi paling penting yang disampaikan dalam kuliah umum ini adalah penjelasan mengenai mengapa reinterpretasi terhadap pandangan Marx menjadi penting. Selama beberapa dekade, pemikiran Marx sering dipahami berfokus pada productivism dan Anthropocene. Interpretasi tersebut sangat memengaruhi perkembangan pemikiran Marxisme pada abad ke-20 dan melahirkan anggapan bahwa persoalan ekologis diabaikan oleh Marx. Dalam kerangka ini, kritik Marx terhadap kapitalisme lebih banyak dipahami sebagai kritik terhadap eksploitasi tenaga kerja, sementara hubungan antara masyarakat dan alam dianggap berada di luar fokus analisisnya.
Menurut pemaparan Kang Gepeng, Kohei Saito mengkritik pembacaan yang telah lama mendominasi tersebut. Melalui kajian terhadap catatan-catatan, manuskrip yang belum terbit, dan surat-menyurat milik Marx, Saitomenunjukkan bahwa pada periode akhir kehidupannya, Marx justru semakin memberikan perhatian terhadap persoalan ekologis. Ketertarikan Marx terhadap ilmu tanah, kimia pertanian, dan bentuk-bentuk kepemilikan komunal memperlihatkan bahwa relasi antara manusia dan alam bukanlah persoalan pinggiran, melainkan bagian dari kritiknya terhadap kapitalisme.
Dalam penjelasan kuliah umum tersebut, Kang Gepeng menekankan bahwa reinterpretasi Saito bukanlah upaya untuk “menciptakan Marx yang baru,” melainkan usaha membaca kembali Marx secara lebih utuh. Saito berargumen bahwa banyak pembacaan sebelumnya yang terlalu menitikberatkan pada karya-karya Marx periode awal dan mengabaikan perkembangan pemikirannya pada tahun-tahun terakhir kehidupannya.
Akibatnya, muncul kesan bahwa Marx hanya mengagungkan produktivitas dan industrialisasi, padahal catatan-catatan yang kemudian dipelajari Saito menunjukkan perhatian yang semakin besar terhadap persoalan degradasi tanah, eksploitasi sumber daya alam, serta hubungan metabolik antara manusia dan alam.
Pembacaan ulang tersebut membawa konsekuensi penting. Jika krisis ekologis dipahami sebagai konsekuensi dari relasi produksi kapitalis, maka persoalan lingkungan tidak lagi dapat dipisahkan dari kritik terhadap kapitalisme itu sendiri. Dengan demikian, solusi atas krisis ekologis tidak cukup hanya mengandalkan inovasi teknologi atau efisiensi pasar, tetapi menuntut perubahan yang lebih mendasar terhadap cara masyarakat mengorganisasi produksi, distribusi, dan kepemilikan sumber daya. Di sinilah konsep Ecosocialism yang dikembangkan Saito memperoleh landasan teoretisnya.
Bagian inilah yang menurut saya paling penting dari keseluruhan kuliah umum ini. Sebelum menawarkan konsep degrowth communism, Saito mengajak kita untuk mempertanyakan kembali asumsi-asumsi terhadap pemikiran Marx. Reinterpretasi tersebut menunjukkan bahwa sejarah pemikiran tidak pernah benar-benar selesai; sebuah teori yang tampak mapan tetap dapat dibaca kembali ketika sumber-sumber yang selama ini terabaikan diperiksa dengan pertanyaan-pertanyaan baru. Dengan demikian, kontribusi Saito bukan semata menawarkan konsep baru mengenai politik ekologi, tetapi juga menunjukkan pentingnya membaca ulang tradisi intelektual secara kritis sebelum menerima interpretasi yang telah menjadi arus utama.
Ecosocialism & Degrowth Communism
Pembahasan kuliah ini kemudian menguraikan dua konsep yang menjadi inti pemikiran Saito, yaitu Ecosocialism dan Degrowth Communism. Kedua konsep tersebut tidak diperkenalkan sebagai teori yang berdiri sendiri, melainkan sebagai konsekuensi logis dari masalah ekologis dan pembacaan ulang terhadap kritik Marx atas kapitalisme. Jika krisis ekologis merupakan bagian dari kontradiksi internal kapitalisme, maka penyelesaiannya tidak dapat dibatasi pada kebijakan lingkungan atau inovasi teknologi semata. Sebaliknya, penyelesaian tersebut menuntut perubahan yang lebih mendasar terhadap mode produksi dan struktur sosial.
Dalam penjelasannya, Kang Gepeng menunjukkan bahwa ecosocialism berangkat dari kritik terhadap komodifikasi alam yang dilakukan oleh kapitalis dan alienasi manusia dengan alam. Hubungan alam dan manusia tidak lagi dipahami sebagai hubungan metabolik, tetapi direduksi menjadi hubungan ekonomi yang berorientasi pada akumulasi surplus. Akibatnya, kerusakan lingkungan bukanlah penyimpangan dari sistem kapitalisme, melainkan krisis yang diproduksi oleh kapitalisme.
Saito menawarkan konsep degrowth communism yang berbeda dari pemahaman umum yang sering diartikan sebagai sekadar memperlambat atau mengurangi pertumbuhan ekonomi. Baginya, degrowth bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari transformasi sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, ia menggabungkan konsep degrowth dengan communism untuk menegaskan bahwa persoalan utama bukan hanya besarnya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga struktur sosial, hubungan produksi, dan distribusi surplus yang menopang kapitalisme.
Kang Gepeng kemudian menjelaskan lima pilar Degrowth Communism yang ditawarkan Kohei Saito sebagai dasar bagi transformasi menuju masyarakat pasca-kapitalis. Kelima pilar tersebut menekankan pentingnya ekonomi yang berbasis komodifikasi kembali ke use value; harus ada pengurangan jam kerja, atau yang biasa disebut care economy; penghapusan pembagian kerja yang seragam; demokratisasi produksi; dan terakhir, mengutamakan kerja yang esensial. Dalam kerangka tersebut, kesejahteraan tidak lagi diukur melalui peningkatan produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi, melainkan melalui kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup secara adil sekaligus menjaga keberlanjutan ekologis.
Salah satu hal yang menarik adalah penjelasan bahwa degrowth communism berbeda dengan konsep degrowth pada umumnya yang mengusung negasi atas perkembangan itu sendiri. Sebaliknya, konsep ini merupakan kritik terhadap bentuk produksi dan konsumsi di Global North yang selama ini menikmati manfaat terbesar dari akumulasi kapital di Global South. Dengan demikian, degrowth communism tidak mengajak masyarakat untuk mengurangi konsumsinya, tetapi mempertanyakan apa yang seharusnya diproduksi, untuk siapa produksi tersebut dilakukan, siapa yang menguasai hasilnya, serta bagaimana proses produksi tersebut memengaruhi hubungan antara manusia dan alam.
Dari Ekologi Politik menuju Kajian Agraria Kritis
Meskipun pemikiran Kohei Saito berkembang terutama dalam tradisi ekologi politik dan kritik terhadap kapitalisme, kontribusinya tidak berhenti pada perdebatan mengenai krisis lingkungan. Sebagaimana tergambar dalam kuliah umum ini, gagasan Ecosocialism dan Degrowth Communism memiliki implikasi yang jauh lebih luas bagi kajian agraria kritis, terutama dalam memahami kembali hubungan antara kapitalisme, transformasi agraria, dan masa depan masyarakat pedesaan.
Selama beberapa dekade, kajian agraria kritis berupaya menjelaskan bagaimana ekspansi kapitalisme mengubah struktur sosial di pedesaan melalui diferensiasi agraria, komodifikasi tanah, tenaga kerja, dan pangan. Transformasi agraria tidak hanya berkaitan dengan perubahan teknologi atau peningkatan produktivitas, tetapi juga merupakan proses perubahan struktur sosial dan ekonomi yang membentuk ulang relasi kelas, akses terhadap sumber daya, serta hubungan antara masyarakat dengan pasar dan alat produksinya. Dalam konteks tersebut, pertanyaan mengenai siapa yang menguasai tanah, siapa yang mengendalikan produksi, dan siapa yang menikmati hasil akumulasi menjadi jauh lebih penting dibanding sekadar pertanyaan mengenai seberapa besar produksi dapat ditingkatkan.
Kuliah umum ini menunjukkan bahwa Kohei Saito memperluas perdebatan tersebut dengan menghadirkan kembali dimensi ekologis sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari transformasi agraria. Jika kapitalisme dipahami sebagai sistem yang tidak hanya mengeksploitasi tenaga kerja tetapi juga merusak hubungan metabolik antara manusia dan alam, maka persoalan agraria tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan distribusi tanah ataupun akses terhadap pasar. Transformasi agraria juga harus dipahami sebagai persoalan bagaimana masyarakat membangun kembali hubungan sosial dan ekologis yang telah teralienasi oleh kapitalisme.
Dalam konteks inilah konsep commons memperoleh makna yang lebih mendalam. Kohei Saito, sebagaimana dijelaskan Kang Gepeng, menempatkan commons sebagai bentuk pengelolaan kolektif yang memungkinkan hubungan antara manusia dan alam dibangun kembali di luar logika kepemilikan privat. Dengan demikian, commons bukan hanya persoalan kelembagaan atau bentuk kepemilikan, tetapi juga merupakan kritik terhadap cara kapitalisme mengorganisasi produksi dan kehidupan sosial.
Pembahasan tersebut memiliki relevansi yang kuat bagi kajian agraria kritis dengan mengajak kita meninjau kembali posisi petani kecil (petty commodity producers) maupun classes of labour dalam proses transformasi agraria. Selama ini, kelompok-kelompok tersebut sering dipahami terutama melalui posisi mereka dalam struktur kelas atau integrasinya ke dalam pasar. Namun, pemikiran Saito membuka kemungkinan untuk melihat mereka pula sebagai aktor yang masih mempertahankan berbagai bentuk pengelolaan kolektif, pengetahuan lokal, dan praktik reproduksi sosial yang tidak sepenuhnya tunduk pada logika akumulasi kapital. Hal ini bukan berarti meromantisasi masyarakat pedesaan, melainkan mengakui bahwa berbagai bentuk organisasi sosial di luar pasar masih memainkan peran penting dalam mempertahankan kehidupan.
Pada titik inilah saya melihat kontribusi paling penting dari kuliah ini. Kohei Saito tidak hanya menawarkan kritik terhadap kapitalisme ataupun memperluas dimensi ekologis dalam pemikiran Marx. Lebih dari itu, ia mengajak kita untuk mempertanyakan kembali asumsi dasar yang selama ini mendominasi teori pembangunan, yaitu bahwa kemajuan selalu identik dengan pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan ekspansi pasar. Melalui gagasan ecosocialism dan degrowth communism, pembangunan tidak lagi dipahami sebagai proses menuju pertumbuhan seperti yang dilakukan dalam mode produksi kapitalis, tetapi sebagai upaya membangun kembali hubungan yang lebih adil antara manusia, alam, dan organisasi produksi.
Di sinilah letak relevansi terbesar pemikiran Saito bagi kajian agraria kritis. Ia tidak menawarkan kebijakan yang sederhana, melainkan mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah transformasi agraria harus selalu mengikuti transisi menuju kapitalisme, ataukah masih terdapat kemungkinan lain yang berangkat dari bentuk-bentuk kepemilikan kolektif, produksi kolektif, dan organisasi sosial yang selama ini berada di pinggiran teori pembangunan? Pertanyaan inilah yang membuat kuliah umum ini melampaui diskusi mengenai krisis lingkungan semata dan menjadikannya relevan bagi perdebatan yang lebih luas mengenai masa depan pembangunan dan transformasi agraria.
Membaca Ulang Tradisi Agraria: Apakah Chayanov perlu dibaca kembali?
Bagi saya secara pribadi, bagian paling menarik dari kuliah umum ini justru muncul setelah pemaparan mengenai ecosocialism dan degrowth communism selesai. Refleksi tersebut tidak secara eksplisit disampaikan oleh Kang Gepeng maupun Kohei Saito, tetapi muncul sebagai konsekuensi logis dari cara Saito membaca ulang Marx. Jika reinterpretasi terhadap manuskrip, surat-surat, dan catatan-catatan Marx mampu menghasilkan pemahaman yang berbeda mengenai hubungan antara kapitalisme dan alam, maka kuliah ini sekaligus mengajukan pertanyaan yang lebih luas: sejauh mana tradisi pemikiran dalam kajian agraria kritis selama ini dibentuk oleh pembacaan-pembacaan yang dianggap mapan?
Pertanyaan tersebut membawa saya pada tradisi pemikiran kaum Narodnik dan Chayanovian. Dalam sejarahstudi agraria, keduanya sering dikaitkan dengan komunitas tani, kepemilikan komunal, serta kemampuan masyarakat pedesaan untuk mempertahankan bentuk-bentuk produksi yang tidak sepenuhnya tunduk pada logika kapitalisme. Di sisi lain, tradisi Marxis juga memberikan kritik yang kuat terhadap Chayanov, terutama karena dianggap kurang mampu menjelaskan diferensiasi kelas, penetrasi kapital, dan dinamika akumulasi dalam masyarakat agraria. Akibatnya, pemikiran Chayanov kerap diposisikan sebagai sesuatu yang romantis, ahistoris, dan bertentangan dengan analisis ekonomi politik.
Tulisan ini tidak bermaksud membantah kritik-kritik tersebut, apalagi menyatakan bahwa Saito memiliki pandangan yang sejalan dengan Chayanov. Keduanya berangkat dari tradisi intelektual yang berbeda dan menawarkan fokusanalisis yang juga tidak sama. Chayanov terutama berusaha memahami logika internal rumah tangga petani, sementara Saito berbicara mengenai kritik ekologis terhadap kapitalisme melalui pembacaan ulang atas Marx. Namun demikian, terdapat resonansi intelektual yang menarik di antara keduanya, khususnya ketika pembahasan bergerak pada pentingnya agrarian commune serta kemungkinan membangun bentuk-bentuk produksi kolektif sebagai bagian dari transformasi sosial.
Yang menurut saya lebih penting bukanlah apakah Chayanov “benar” atau “salah,” melainkan pelajaran metodologis yang ditawarkan oleh Kohei Saito. Reinterpretasi Saito menunjukkan bahwa sejarah pemikiran tidak pernah benar-benar selesai. Seorang pemikir dapat dipahami secara berbeda ketika sumber-sumber yang sebelumnya terabaikan dibaca kembali melalui pertanyaan-pertanyaan baru. Dalam pengertian tersebut, kuliah ini mendorong kita untuk bersikap lebih reflektif terhadap kanon-kanon yang selama ini membentuk studi agraria. Kritik yang telah lama diterima tidak harus ditolak, tetapi juga tidak seharusnya diterima sebagai sesuatu yang final tanpa terus diuji kembali.
Refleksi ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan perdebatan mengenai transformasi agraria kontemporer. Selama beberapa dekade, teori pembangunan cenderung mengasumsikan bahwa modernisasi, industrialisasi, dan integrasi pasar merupakan jalur yang hampir tidak terelakkan bagi perubahan agraria. Akan tetapi, gagasan Kohei Saito mengenai commons dan degrowth communism membuka ruang untuk mempertanyakan kembali asumsi tersebut. Jika terdapat kemungkinan untuk membangun bentuk-bentuk organisasi produksi yang lebih demokratis, lebih kolektif, dan lebih berkelanjutan secara ekologis, maka pengalaman-pengalaman historis mengenai komunitas agraria, koperasi, maupun pengelolaan bersama atas sumber daya menjadi relevan untuk dikaji kembali, bukan sebagai model yang siap diterapkan, melainkan sebagai sumber inspirasi teoretis bagi pencarian alternatif di luar kapitalisme.
Dalam konteks Indonesia, refleksi ini juga memiliki arti yang penting. Berbagai praktik pengelolaan bersama atas tanah, hutan, air, maupun kelembagaan koperasi masih dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, meskipun sering berada di bawah tekanan komodifikasi dan ekspansi kapital. Kuliah umum ini mengingatkan bahwa praktik-praktik tersebut tidak semata-mata merupakan sisa masa lalu yang akan hilang oleh modernisasi, tetapi dapat menjadi bagian dari perdebatan mengenai masa depan transformasi agraria yang lebih adil dan berkelanjutan. Dengan demikian, kontribusi terbesar Kohei Saito bagi saya bukan hanya menghadirkan konsep degrowth communism, tetapi juga mengajarkan keberanian untuk membaca ulang tradisi intelektual secara kritis, termasuk tradisi yang selama ini dianggap telah selesai diperdebatkan.
Sejauh Mana Degrowth Communism dapat diwujudkan?
Meskipun kuliah umum ini berhasil menunjukkan kekuatan konseptual pemikiran Kohei Saito, gagasan Ecosocialism dan Degrowth Communism tetap menyisakan sejumlah pertanyaan penting ketika dihadapkan pada realitas politik dan keadaan ekonomi. Pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk menolak argumen Saito, melainkan untuk menguji sejauh mana konsep tersebut dapat diterjemahkan ke dalam proses transformasi sosial yang nyata, terutama di negara-negara Global South.
Salah satu penjelasan yang ditekankan dalam kuliah ini adalah bahwa agenda Degrowth Communism terutama ditujukan kepada negara-negara maju di Global North yang selama ini menikmati manfaat terbesar dari industrialisasi, kolonialisme, dan akumulasi kapital. Dalam konteks tersebut, pengurangan produksi dan konsumsi dipandang sebagai langkah yang diperlukan untuk mengurangi tekanan ekologis sekaligus membuka ruang bagi distribusi sumber daya yang lebih adil secara global. Argumen ini memiliki dasar moral dan ekologis yang kuat, terutama jika melihat ketimpangan jejak karbon antara Global North dan Global South.
Namun demikian, muncul pertanyaan mengenai bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan dalam konteks negara-negara berkembang. Banyak negara di Global South masih menghadapi persoalan kemiskinan, ketimpangan, pengangguran, dan keterbatasan akses terhadap layanan dasar. Dalam kondisi seperti ini, pertumbuhan ekonomi masih dipandang sebagai instrumen penting untuk memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan membiayai pelayanan publik. Oleh karena itu, transisi menuju degrowth tidak dapat dipahami sebagai kebijakan yang dapat diterapkan secara seragam di seluruh dunia. Kondisi historis, posisi dalam ekonomi politik global, serta kapasitas negara perlu menjadi bagian dari analisis.
Dari perspektif kajian agraria kritis, pertanyaan lain yang juga penting adalah mengenai aktor politik yang akan mendorong transformasi tersebut. Saito menawarkan visi mengenai masyarakat yang lebih demokratis, berbasis commons, dan berorientasi pada keberlanjutan ekologis. Akan tetapi, jalan menuju perubahan tersebut tidak dijelaskan secara rinci. Bagaimana bentuk koalisi sosial yang mampu mendorong transformasi itu? Apa peran negara dalam proses tersebut? Bagaimana menghadapi kepentingan korporasi transnasional yang memperoleh keuntungan dari sistem produksi kapitalis? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting karena transformasi agraria tidak pernah hanya merupakan persoalan gagasan, tetapi selalu melibatkan relasi kekuasaan, konflik kepentingan, dan perjuangan politik.
Dalam konteks Indonesia, tantangan tersebut menjadi semakin kompleks. Di satu sisi, praktik-praktik pengelolaan kolektif atas sumber daya masih dapat ditemukan melalui berbagai bentuk kelembagaan lokal, koperasi, maupun inisiatif masyarakat. Di sisi lain, sektor pertanian Indonesia juga berada di bawah tekanan komersialisasi, integrasi ke dalam rantai nilai global, serta kebijakan pembangunan yang masih menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai indikator utama keberhasilan. Dengan demikian, pertanyaan mengenai bagaimana prinsip-prinsip Ecosocialism dan DegrowthCommunism dapat diterapkan tidak memiliki jawaban yang sederhana. Ia memerlukan pembacaan yang peka terhadap konteks sejarah, politik, dan struktur ekonomi masing-masing negara.
Meskipun demikian, keterbatasan tersebut tidak mengurangi nilai penting pemikiran Kohei Saito. Justru sebaliknya, kekuatan utama gagasannya terletak pada kemampuannya menggeser pertanyaan yang selama ini mendominasi diskusi pembangunan. Jika selama ini perdebatan lebih banyak berfokus pada bagaimana mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, Saito mengajak kita mengajukan pertanyaan yang berbeda: pertumbuhan untuk siapa, diproduksi oleh siapa, dengan mengorbankan siapa, dan sampai sejauh mana bumi mampu menopang logika pertumbuhan yang tidak mengenal batas. Dalam pengertian ini, Degrowth Communism bukan hanya menawarkan seperangkat kebijakan alternatif, tetapi juga mengubah cara kita membingkai persoalan pembangunan itu sendiri.
oleh: Dianisa Aska Nadhira
Penulis adalah kandidat PhD program Development Studies di China Agricultural University, Beijing, Cina. Beliau juga merupakan alumni pelatihan CASI angkatan XII tahun 2026.




