Sempat Tertunda, Penyelenggaraan Workshop SAK-2019 Akhirnya Dilaksanakan

0
35

Seusai melakukan penelitian lapangan pada Desember 2019 – Februari 2020 lalu, peneliti SAK 2019 diberi waktu sekitar satu bulan untuk menuliskan naskah hasil penelitiannya. Selanjutnya naskah tersebut akan diprentasikan pada Workshop: “Pembahasan Naskah Hasil Penelitian” pada Maret 2020. Begitu kurang lebih agenda awal penyelenggaraan SAK 2019. Namun berhubung situasi wabah pandemi Covid-19 yang terjadi belakangan, kegiatan workshop tersebut yang sedianya diagendakan pada Maret 2020 harus diundur hingga Juni 2020. Selain itu metode tatap muka yang pada mulanya direncakan juga menjadi tidak memungkinkan, sehingga penyelenggaraannya dilakukan secara virtual melalui Zoom Meeting.

Pada penyelenggaraannya, naskah hasil penelitian yang sudah ditulis selama tiga bulan terkahir oleh para peneliti SAK 2019, dipresentasikan pada Diskusi Online #1 dan #2 pada 4-6 Juni 2020 dan 16 Juni 2020 lalu. (Topik kajian dari masing-masing peneliti dapat dilihat pada tulisan reportase SAK sebelumnya). Selain dipresentasikan, pada diskusi online ini, tulisan dari para peneliti juga dikomentari oleh tim penanggap serta para pendamping ahli. Sementara itu pada kurun waktu 7-24 Juni 2020, masing-masing peneliti melakukan perbaikan tulisan dengan dampingan tim ahli secara intensif.

Pada akhir workshop, kedelapan peneliti berkomitmen untuk menyelesaikan naskah penelitiannya yang selanjutnya akan dipublikasikan berupa buku dan publikasi ilmiah lainnya. Selain itu temuan dari penelitian-penelitian tersebut juga menjadi bahan dalam merumuskan naskah rekomendasi kebijakan sebagai potret kondisi sawit rakyat saat ini. Naskah rekomendasi kebijakan tersebut tengah disusun oleh tim Policy Brief ARC dan akan dibahas khusus pada Seminar Online yang akan diselenggarakan pada 25 Juni 2020 mendatang.

Seluruh rangkaian workshop berjalan lancar walaupun diselenggerakan melalui media virtual. Salah satu penanggap dalam kegiatan ini, Rostanto Sutarto dari SPOS-KEHATI, berkomentar bahwa secara teknis meskipun kegiatan ini diselenggarakan dalam media virtual, namun diskusinya berjalan kondusif seolah-olah kita sedang berada dalam satu ruangan yang sama.