Seri Diskusi Populisme – “Populisme Agraria”

0
207

Kemunculan Narodnik sebagai gerakan politik di pedesaan Rusia abad ke-17 dengan cepat meraih simpati massa di pedesaan dan mengancam kekuasaan Tsar. Gagasan mereka adalah mempertahankan kehidupan petani di pedesaan untuk mencapai masyarakat sosialis. Gagasan yang dikenal sebagai populisme agraria tersebut kemudian dilanjutkan A. V. Chayanov yang menjelaskannya sebagai “sebuah teori untuk pengembangan pertanian berbasis koperasi rumah tangga petani, yang diorganisasi secara kooperatif sebagai kelas independen, dan secara teknis lebih superior dibanding semua bentuk pengorganisasian pertanian yang ada.” Chayanov melihat petani sebagai kelas tunggal (homogen) yang mampu mempertahankan produksi subsisten dengan tenaga kerja keluarga di tengah karakter egalitarian di antara mereka, sehingga dianggapnya akan berhasil menghadapi penetrasi kapitalisme di pedesaan.

Tom Brass (1997) melihat ada perbedaan pandangan antara marxisme dan populisme dalam melihat persoalan agraria. Perbedaan itu tampak dari berbagai aspek, seperti sudut pandang subyek sejarah, identitas politik, tindakan politik, efek sistemik, wacana ekonomi, serta wacana ideologi politik. Tidak seperti para pengkaji agraria marxis yang menggunakan masalah agraria (agrarian question) dalam melihat masyarakat petani sebagai kelas proletar di pedesaan, populisme agraria meyakini bahwa tulang punggung ekonomi pedesaan yang sehat bukan hanya tertumpu dari pertanian (agriculture per se), tetapi pada struktur sosial-ekonomi khusus yang terdapat dalam moda produksi pertanian para petani (peasant agriculture) (1997: 201-202). Di kemudian hari, jejak pemikiran Chayanov dapat ditemukan pada gerakan-gerakan petani (peasant movements) di tingkat global maupun di Indonesia sendiri, serta para scholar activist yang turut mengusung gerakan petani tersebut (Habibi, 2019).

Terlepas dari kerumitan untuk memahami populisme agraria, menarik untuk lebih dalam memahami perkembangan bagaimana populisme hadir, bertahan, dan berubah di dalam konteks masyarakat agraris dan mengapa pengaruhnya hari ini justru menguat di berbagai negara. Seri Diskusi Populisme etape kedua ini adalah kelanjutan bahasan dari sejarah populisme yang akan memperdalam secara khusus topik “populisme agraria”. Melalui diskusi ini diharapkan kita dapat lebih memperdalam diskursus mengenai populisme agraria sebagai bentuk pemikiran dan politik, baik kiri maupun kanan, yang kini pengaruhnya meluas sebagai kekuatan politik di berbagai negara serta berbagai gerakan sosial, termasuk gerakan sosial pedesaan.

Tema: “Populisme Agraria”

Pemantik:
– Dianto Bachriadi, PhD – “Politik Populisme Agraria”
– Prof. Ben White – “Dari Populisme Agraria ke Neo Populisme Agraria, dan Implikasi Pemikirannya di Indonesia”

Waktu:
Selasa, 1 Desember 2020
Jam 14.00-17.00 WIB

Diskusi akan berlangsung secara luring (offline) dan daring (online). Diskusi luring dilakukan di Sekretariat ARC, Jl. Ski Air, No. 20, Arcamanik, Bandung. Diskusi luring bersifat terbatas, hanya untuk 10 pendaftar, dan akan diterapkan protokol kesehatan yang ketat. Sedangkan diskusi daring menggunakan aplikasi Zoom dan terbuka seluas-luasnya bagi siapa pun yang berminat ikut diskusi.

Pendaftaran: bit.ly/populismeagraria

Narahubung: 0895 3765 58210 (ARC)