Sayonara! – Kuliah Umum Perpisahan Evolusi Tanah: Dialektika Perubahan Klaim atas Tanah

0
182

Agrarian Resource Center (ARC) mengadakan sebuah sesi khusus bagi Dianto Bachriadi—atau sapaan akrabnya, Kang Penk—untuk memaparkan materi sebelum ia meninggalkan ARC. Dimoderatori oleh Sutami Amin, kegiatan ini berlangsung pada tanggal 29 Agustus dan terbuka bagi para peserta secara luring dan daring. Tulisan ini dibuat sebagai ulasan acara, sehingga isi dari materi akan lebih terbatas. Saya sendiri bertugas untuk mencatat selama kegiatan berlangsung, sehingga notula ikut dilampirkan pada bagian akhir dari tulisan, agar paparan yang lebih mendalam dapat diakses oleh pembaca.

Acara ini secara garis besar menjelaskan evolusi tanah dari yang silam, yaitu tanah sebagai ekosistem hingga paling mutakhir, finansialisasi serta hubungannya dengan sejarah perkembangannya sendiri. Dalam melihat kondisi masa kini, perlu adanya pemahaman mengenai hubungan-hubungan inheren yang bersifat dialektis dan tidak ahistoris, seperti yang diungkapkan oleh Sutami:

Harus diingat bahwa tenaga-tenaga produktif dan hubungan-hubungan produksi (yakni corak produksi) yang baru tidak tumbuh dari ruang hampa, atau jatuh dari langit, atau dari rahim sebuah Ide bebas; tetapi dari dalam (corak yang lama) dan sebagai antithesis terhadap tingkat kemajuan produksi yang ada dan terwarisi dari hubungan-hubungan kepemilikan sebelumnya. (Sutami, [29 Agustus 2022]).

Secara berurutan, acara meliputi sesi pemaparan dan diskusi oleh peserta dengan narasumber, diiakhiri oleh kesimpulan akhir dari Kang Penk. Sesi pemaparan diawali dengan bab berjudul Tanah Adalah Bagian dari Ekosistem, penjabaran mengenai kelompok masyarakat pemburu-meramu awal yang lebih mementingkan ketersediaan pangan dan tidak “menganggap penting” tanah.

“Sesuai dengan cara pandang klasik beraliran Marxist, di antara tiga elemen penting pembentuk budaya, yaitu teknologi, organisasi sosial dan ideologi atau nilai-nilai budaya; pemain penting dalam perubahan budaya adalah teknologi serta organisasi sosial bukan ideologi.” (Dianto Bachriadi, [29 Agustus, 2022]).

Kutipan tersebut menjelaskan mengenai bab Perubahan Demografi dan Teknologi, serta Surplus Kerja. Berawal dari tekanan populasi yang berakibat pada perkembangan teknologi dan teknik-teknik untuk menyediakan pangan, kemudian berakibat pada kemunculan chiefdom dan klaim atas teritori. Perkembangan rejim pemilikan dan penguasaan bersama (common property right regime), kepemilikan hewan dan tanaman hasil domestifikasi dipisah sebagai milik individu, keluarga atau kelompok. Namun, tanah tetap dimiliki oleh seluruh anggota kelompok. Perkembangan yang terus terjadi pada akhirnya bermuara pada konsep ketuan-tanahan, dimana tanah diklaim oleh para kaum bangsawan yang memonopoli surplus dari para petani. Muncul para pedagang dan pasar yang semakin memberatkan beban para petani.

Bagian berikutnya, Kontradiksi pada Masyarakat Feodal dan Transisi Agraria, menjelaskan mengenai hasil pokok dari kontradiksi masyarakat feodal akibat perkembangan ekonomi yang terjadi. Pemutusan relasi sosial manusia dengan tanah, tanah dan tenaga kerja menjadi kepentingan bagi industri komoditas, munculnya relasi produksi perupahan dan agar dapat dikontrol sepenuhnya, hingga kelahiran kolonisasi. Dijelaskan pula mengenai perubahan masyarakat menjadi kelas pemilik tanah dan tak bertanah, juga artikulasi corak produksi pada daerah koloni.

Penjelasan Tanah dan Finansialisasi pada Corak Perekonomian Kapitalis, meliputi perkembangan sistem akuntansi yang mulai menerapkan “nilai masa depan” dengan perhitungan memprediksi nilai tanah, kelahiran mafia tanah, konflik perampasan tanah, masifnya proses sertifikasi tanah bersamaan dengan melonjaknya nilai juga harga tanah, serta perubahan konsep tanah milik bersama menjadi milik publik atau masyarakat global yang mengikuti hierarki tata pemerintahan dan seperangkat hukum formal.

Pemaparan materi disambut baik bagi para peserta baik daring maupun luring dengan memberikan beragam pertanyaan, meliputi: 1. Pemahaman bentuk ekonomi dualistik pada masa kini di Indonesia; 2. Penentuan nilai tanah sebelum masuk ke sektor finansial serta kaitannya dengan lokasi dari tanah tersebut; 3. Tanah dan masyarakat adat sebagai identitas dan peningkatan kesejahteraan; 4. Penjelasan mengenai kepergian Kang Penk juga ujung kulminasi dari krisis kapitalisme.

Ditutup oleh kesimpulan akhir dari Kang Penk pada hari terakhirnya sebelum meninggalkan ARC dalam waktu yang relatif tidak singkat, kuliah umum berakhir.

ditulis oleh Ratu Tammi Silmi Azzahra

Unduh Notula Kuliah Umum Perpisahan Evolusi Tanah