Peneliti ARC Diskusikan Disain Riset Transisi Agraria Bersama Sajogyo Institute

0
396

Para peneliti Agrarian Resource Center (ARC) mendiskusikan desain riset mereka bertema transisi agraria di Indonesia bersama para peneliti Sajogyo Institute (Sains) pada Kamis, 21 Oktober 2021. Diskusi disain riset yang dikerjakan para peneliti ARC sejak akhir tahun 2020 itu bertempat di sekretariat Sains, Jl. Malabar, No. 22, Kota Bogor.

Bagi sebagian ilmuwan, transisi agraria di negara-negara Selatan itu dipengaruhi (atau diawali) oleh transisi agraria yang terjadi di Eropa pada abad ke-16 serta oleh perubahan dalam dinamika kapitalisme global (globalisasi). Karenanya, transisi agraria bisa dibilang tidak perlu terjadi di negara Selatan karena negara-negara itu sudah “terlanjur” terlibat di dalam relasi komoditas global. Dengan demikian, globalisasi dan determinasi sistem dunia telah melampaui penyelesaian masalah agraria (agrarian question, AQ). Pandangan ini dianggap terlalu kaku dan tertutup terhadap kemungkinan lain.

Sementara, ilmuwan yang lain menganggap situasi dapat menjadi terbuka ketika investigasi empiris dilakukan untuk menangkap kekhasan pengalaman lokal dalam mempertimbangkan sifat “jalan/jalur” transisi agraria ke kapitalisme yang berbeda. Oleh karena itu, lima peneliti ARC mencoba untuk mengungkap kekhasan tersebut di lokus yang menjadi minat para peneliti, untuk menunjukkan perubahan-perubahan corak produksi yang berkaitan dengan penguasaan lahan dan tenaga kerja.

Hilma Safitri, presenter pertama, memaparkan desain risetnya tentang transisi agraria di Minahasa, Sulawesi Utara. Menurutnya, transisi agraria di Minahasa terjadi melalui proses “difusi kolonial” untuk memisahkan alat produksi dan orang menjadi komoditas terpisah, serta “penaklukan populasi” untuk memasukan ide-ide kemajuan kolonial

Presenter selanjutnya, Muhammad Syafiq, membahas desain riset transisi agraria di Ende Lio, Nusa Tenggara Timur, yang fokus pada kemunculan dan perkembangan kelas kapitalis pedesaan yang mempertahankan struktur sosial prakolonal (atau tradisional).

Noor Vita Anggraeni memaparkan desain riset mengenai transisi ke kapitalisme yang terjadi di Lamalera, Kepulauan Sunda Kecil. Base on case, topiknya unik karena menempatkan komodifikasi perburuan paus jadi bagian penting dalam proses transisi ke kapitalisme, meskipun struktur sosial tradisional tetap dipertahankan.

Ketiga desain riset tersebut punya kesamaan. Mereka mengkaji kelompok masyarakat yang tidak pernah atau belum mencapai fase corak produksi feodalisme. Mereka “melompat” dari corak produksi prafeodal ke kapitalis. Sesuatu yang bertolak belakang dengan pandangan evolusionis.

Izzudin Prawiranegara menjadi penampil keempat. Ia memaparkan desain risetnya mengenai transisi agraria di Banjarmasin-Sampit. Menurutnya, kehancuran feodalisme mendorong migrasi masyarakatnya untuk membangun kapitalisme di Sampit (no man’s land). Konsep yang digunakan dalam desain risetnya itu adalah peripheral capitalism dan frointier capitalism.

Presenter terakhir, M Kasiyono, memaparkan desain riset tentang proses transisi agraria di Bangka. Menurutnya, transisi agraria di Bangka didahului dengan artikulasi dua corak produksi selama beberapa abad, dan pedagang Tionghoa turut memengaruhi dinamika perubahan relasi komoditas dan pengerahan tenaga kerja.**

 

SG