Kolonialisasi Perempuan dalam Pembangunan Bendungan Bener Purworejo

0
360
©Ekspresionline.com

Proyek pembangunan Bendungan Bener mendapat legitimasi melalui Keputusan Gubenur Jawa Tengah No. 590/41 tahun 2018. Dalam praktiknya, Dhanil al Ghifari dari LBH Jawa Tengah menilai proyek ini melakukan penyelundupan hukum yang cacat secara administratif dalam penetapan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Di mana, tidak terlibatnya masyarakat dalam penyusunannya hingga keluar Izin Penetapan Lokasi (IPL), apalagi perempuan sebagai pihak yang paling terdampak dalam setiap konflik agraria dengan wajah pembangunan. Selain itu, AMDAL bendungan dan AMDAL quarry dijadikan satu, bertolak belakang dengan dasar hukum Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.  5 tahun 2012, yakni pemotongan bukit dengan besaran volume lebih dari 5000 m3 harusnya memakai AMDAL sendiri.

Apalagi pasca disahkannya UU Cipta Kerja dan peraturan turunannya, menjadi jalan mulus alih fungsi lahan Proyek Strategis Nasional. Dalam PP No. 26 tahun 2021 pasal 105 menyebut kepentingan umum di antaranya adalah jalan umum, waduk, bendungan, irigasi, saluran air minum atau air bersih, drainase dan sanitasi, bangunan perairan, pelabuhan, bandar udara, stasiun dan jalan kereta api, terminal, fasilitas keselamatan umum, cagar alam, dan pembangkit dari jaringan listrik.

Vandana Shiva mengatakan, “Globalisme menurut pandangan kapitalisme patriarki semata menjadi tujuan kapitalisme global untuk menguasai sumber-sumber alam dan pasar dunia. Di mana pun proyek-proyek pembangunan dijalankan, pembangunan akan merampas tanah dan memutus ikatan batin antara masyarakat dan tanah”. Dalam  proyek pembangunan Bendungan Bener di Purworejo wujud dari kolonisasi perempuan lebih tepatnya penjajahan perempuan.

Melalui perspektif ekofeminisme, penulis akan menelusuri bagaimana kolonisasi perempuan yang dilakukan negara sebagai kepajangtanganan kapitalisme global yang berwatak patriarkal. Bahwa kesejahteraan pembangunan adalah kamuflase. Mungkin hal ini bukanlah kajian baru, namun menurut penulis narasi perlawanan harus digaungkan untuk meruntuhkan kapitalisme patriarkal yang mengatasnamakan pembangunan.

Baca lebih lanjut artikel Ayu Nuzul, kader Front Nahdliyin untuk Keaudalatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Jombang dan alumni Pelatihan CASI juga TPSA ARC, di tautan berikut: Ayu Nuzul, “Kolonialisasi Perempuan dalam Pembangunan Bendungan Bener Purworejo”, Daulat Hijau (fnksda.or.id), 3 Mei 2021.