Get In Touch

“Pemberontakan yang Tidak Pernah Ada? Setelah Protes Indonesia Tahun 2025”

“Pemberontakan yang Tidak Pernah Ada? Setelah Protes Indonesia Tahun 2025” adalah artikel dari Focaal Blog yang memperkaya pembahasan dari fenomena aksi Agustus-September tahun 2025 kemarin yang menjadi gejolak besar pada gerakan perkotaan di tingkatan Nasional. Dalam artikel tersebut, Iqra Anugrah dan Rachma Lutfiny Putri (keduanya merupakan peneliti tamu di ARC) mengangkat dan membahas kondisi gerakan protes di Indonesia pada Agustus-September 2025 terhadap pemerintahan Prabowo. Menurut mereka, meredanya aksi massa terutama disebabkan oleh represi negara melalui penangkapan dan kriminalisasi aktivis, serta tekanan ekonomi yang membuat masyarakat lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Meskipun mobilisasi besar yang kian menurun, aktivitas gerakan sosial tidak sepenuhnya berhenti. Aktivis, organisasi masyarakat sipil (CSO), dan pengacara bantuan hukum tetap melakukan advokasi bagi pada tahanan, mengadakan diskusi publik, pendidikan politik, dan kampanye terkait isu lingkungan serta hak-hak demokratis. Dalam hal ini Iqa dan Putri menyebut kondisi ini sebagai bentuk diri “aktivisme tangguh”, yakni upaya bertahan dan terus bergerak di tengah tekanan negara dan keterbatasan sumber daya. tak berhenti sampai di situ, dalam artikel ini juga para penulis mencoba mengkritik peran pemengaruh (influencer) liberal yang dinilai memperoleh perhatian publik dan akses politik lebih besar dibandingkan organisasi akar rumput, serikat pekerja, dan gerakan sosial yang menjadi penggerak utama aksi protes tersebut. Dominasi pengaruh ini juga cenderung memoderasi tuntutan politik dan membatasi potensi perubahan yang lebih mendasar.

Pada bagian akhir, Iqra dan Putri berargumen bahwa meskipun siklus protes tahun 2025 kemarin telah mereda, kondisi struktural seperti ketimpangan ekonomi, pemiskinan, dan kebijakan pemerintah yang kontroversial masih berpotensi memicu gelombang mobilisasi baru di masa depan. Oleh karena itu, pembangunan gerakan harus bertumpu pada organisasi akar rumput, kondisi material, serta kerja politik jangka panjang di tengah masyarakat langsung.

Simak artikel penuhnya di sini.