Nelayan dan Petani: Berbeda tapi Tak Berbeda?

0
273

Tinjauan atas Buku Arif Satria, Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir (2015)

Arif Satria memberanikan diri menulis pengetahuan dan pengalamannya terkait sosiologi masyarakat pesisir dalam sebuah buku yang berjudul Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir. Pada tahun 2015, Yayasan Pustaka Obor Indonesia mencetak buku tersebut untuk kedua kalinya. Tentu melawati proses revisi dari edisi pertamanya yang diterbitkan oleh Cidesindo pada 2002.

Arif Satria merupakan dosen di Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia mengajar beberapa mata kuliah, di antaranya ialah Sosiologi umum, Ekologi Manusia, Politik Sumberdaya Alam, Pengelolaan Sumberdaya Alam berbasis Masyarakat, dan lain sebagainya. Saat ini ia menjabat sebagai Rektor Institut Pertanian Bogor untuk periode 2017-2022. Selain aktif di kampus, Arif juga sering dilibatkan dalam tim penyusun peraturan/perundang-undangan dan perumus program kebijakan daerah maupun nasional, terkhusus di bidang kelautan dan perikanan.

Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir ditulis penulis melihat minimnya sosiolog yang menaruh perhatian pada masyarakat pesisir. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi akibat pilihan politik pembangunan masa lalu yang terlalu pro-darat dan terkesan mengabaikan kelautan. Sehingga, menurutnya, masyarakat pesisir kurang berkembang dan terus dalam posisi marjinal. Secara garis besar, dalam buku ini Arif mengevaluasi praktik pelaksanaan pembangunan serta pengelolaan di wilayah pesisir, khususnya imbas yang dialami oleh masyarakat didalamnya.

Konstruksi bahasan yang disajikan penulis dalam buku ini cukup lengkap dan sistematis. Buku ini terdiri atas delapan bab. Diawali dengan bahasan tentang pentingnya mempelajari sosiologi masyarakat pesisir, serta kerangka teoritis tentang karakter dan struktur sosial masyarakat pesisir. Bab selanjutnya membahas dinamika dan transformasi sosial masyarakat pesisir di tengah perubahan teknologi perikanan. Kemudian penulis berupaya mengulas kasus seputar konflik dan realita sosial yang terjadi di komunitas masyarakat pesisir, serta diakhiri dengan opini penulis tentang opsi pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis masyarakat sebagai alternatif solusi dari permasalahan yang terbahas pada bab-bab sebelumnya.

Hal di atas rasanya sesuai dengan kata awal yang terdapat pada judul buku, “Pengantar”. Ditambah lagi bahasa yang dipakai relatif mudah untuk dipahami. Penulis menggunakan kata “Pengantar” pada judul buku ini mungkin diartikan sebagai dasar atau fondasi pembaca dalam memahami konteks sosiologi pada masyarakat pesisir. Jika benar seperti itu, kerangka berpikir yang disampaikan di awal buku seharusnya disampaikan dengan jelas, agar fondasi pemahaman yang dicerna oleh pembaca tidak keliru. Sehingga pembaca terhindar dari kegagalpahaman.

Terdapat kekeliruan yang saya alami sebagai pembaca pemula dalam memahami kerangka pikir yang dibangun oleh penulis pada buku ini. Pada bab awal, misalnya, penulis beberapa kali menyebutkan adanya perbedaan masyarakat pesisir dengan masyarakat pedesaan yang basisnya adalah kegiatan pertanian di darat.

“Sosiologi pedesaan berbasis society, sementara sosiologi masyarakat pesisir lebih berbasis sumberdaya. Kajian-kajian sosiologi di dalamnya bersumber dari berbagai aktivitas masyarakat yang terkait dengan sumberdaya perikanan.” (hal. 5, bab I)

“Secara sosiologis, karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan karakteristik masyarakat agraris karena perbedaan karakteristik sumberdaya yang dihadapi. Masyarakat agraris yang direpresentasikan oleh kaum tani menghadapi sumberdaya yang terkontrol, yakni pengelolaan lahan untuk produksi suatu komoditas dengan hasil yang relatif bisa diprediksi. Sifat produksi yang demikian memungkinkan tetapnya lokasi produksi.

“[…] Karakteristik tersebut berbeda sama sekali dengan nelayan. Nelayan menghadapi sumberdaya yang hingga saat ini masih bersifat akses terbuka (open access). Karakteristik sumberdaya seperti ini menyebakan nelayan mesti berpindah-pindah untuk memperoleh hasil maksimal.” (hal. 7, bab II)

Namun pada penjelasan selanjutnya, penulis menggunakan kerangka pikir Raymond Firth (1946) dalam Malay Fishermen: Their Peasant Economy, yang menerangkan bahwa kondisi masyarakat nelayan sama seperti masyarakat petani.

“[M]asyarakat nelayan tersebut memiliki kemiripan dengan masyarakat tani, yakni bahwa sifat usahanya bersifat kecil dengan peralatan dan organisasi pasar yang sederhana; eksploitasi yang sering berkaitan dengan masalah kerja sama; sebagian besar menyandarkan diri pada produksi yang bersifat subsisten; dan memiliki keragaman dalam tingkat perilaku ekonominya.” (hal. 8, bab II)

Walaupun logis secara teori, tapi pernyataan tersebut terkesan janggal karena kontradiktif dengan logika berpikir pada pernyataan sebelumnya. Dengan ditekankannya pernyataan “masyarakat nelayan yang sama dengan masyarakat petani” pada bahasan selanjutnya yang menggunakan kerangka pikir Redfield (1941) tentang tipe komunitas, penjelasan Arif terasa semakin ambigu. Pada akhirnya, buku ini menggolongkan masyarakat nelayan dalam komunitas desa petani (peasant village) dan desa terisolasi (tribal village), serta memiliki karakteristik yang sama dengan folk-society.

Kerangka berpikir yang dibangun dengan landasan teori yang senada, sekiranya akan lebih menghasilkan pemahaman yang bulat. Meminimalisir kemungkinan adanya gagal paham, terlebih jika ditujukan untuk pemula. Setidaknya tidak terlalu merujuk pada kesimpulan “Nelayan dan Petani: Berbeda tapi Tak Berbeda”.

Walau terdapat kerancuan khususnya pada bab awal, setidaknya buku ini menghasilkan banyak pengetahuan baru. Terlebih tentang kondisi masyarakat pesisir di Indonesia, seputar dinamika  sosial; tipologi konflik; serta permasalahan kemiskinan dan relevansinya dalam konteks masyarakat pesisir. Maka dari itu, buku ini sangat direkomendasikan, utamanya pada orang-orang yang hendak mendalami isu pembangunan dan pengelolaan pesisir maupun pulau-pulau kecil.

Selamat membaca.

 

AH
Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB)


Judul Buku: Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir
Pengarang: Arif Satria
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 150 hlm; 14,5 x 21 cm