CERITA DI TANAH MINANG – CATATAN MENGIKUTI KONFERENSI NASIONAL SOSIOLOGI V 2016 – PADANG 17 – 19 MEI 2016

0
251

CERITA DI TANAH MINANG
CATATAN MENGIKUTI KONFERENSI NASIONAL SOSIOLOGI V 2016
PADANG 17 – 19 MEI 2016

Pada tanggal 17 – 19 Mei 2016, Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI) mengadakan perhelatan tahunannya, Konferensi Nasional Sosiologi V. Dilaksanakan di kota Padang, Sumatera Barat bertajuk “Gerakan Sosial dan Kebangkitan Bangsa”. Acaranya berlangsung selama 3 hari, dibagi ke dalam 2 bagian, yaitu pertama, workshop tentang metodologi pengajaran dan inisiatif Open Journal System (OJS), dan kedua, diskusi panel dengan tema konferensi ini. Keseluruhan acara dilangsungkan di Hotel Bumi Minang, Padang, Sumatera Barat.
Baik workshop dan konferensi diikuti oleh sekitar 200 lebih peserta. Mereka berasal dari hampir seluruh universitas di Indonesia yang memiliki jurusan Sosiologi, dan sejumlah peneliti yang mewakili lembaga penelitian. ARC salah satu perwakilan lembaga penelitian yang mengirimkan tiga orang perwakilannya. Mereka, Sityi Maesarotul Qori’ah, Rahmi Indriyani, dan Lina Marina Rohman menyampaikan makalahnya masing-masing, dan sebagai pemakalah termuda di forum ini. Pada umumnya, peserta yang hadir adalah dosen di jurusan Sosiologi atau mereka yang sudah terlibat dalam penelitian sosial cukup lama. Sementara, kami bertiga adalah lulusan tahun 2015 dengan pengalaman penelitian yang relatif singkat, sejak akhir pertengahan tahun 2015 di ARC.

Rangkaian acara disusun dengan apik oleh panitia, sejak pembukaan hingga penutupan. Rangkaian kebudayaan Minang Kabau dipersembahkan untuk menyambut kedatangan peserta yang datang dari seluruh Indonesia, setelah prosesi resmi seperti menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pembacaan ayat suci Al Quran. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa sambutan dari tuan rumah, Universitas Andalas (UNAND), dan panitia pelaksana, Jurusan Sosiologi UNAND. Tidak mau ketinggalan, pemerintah provinsi Sumatera Barat juga turut menyambut seluruh peserta konferensi di Gedung Gubernur Provinsi Sumatera Barat.

minang 1    Konferensi dimulai pada hari ke-2, yaitu tanggal 18 Mei 2016 hingga keesokan harinya. Dimulai dengan penyampaian keynote speech oleh Prof. DR. Anton Lucas, tentang “Gerakan Transformasi Agraria Pasca Orde Baru”. Prof. DR Anton Lucas menyampaikan hal-hal penting tentang tema konferensi ini, serta melihat dinamikanya hingga saat ini yang sangat relevan untuk dibahas didalam konferensi ini. Di sela-sela pidatonya, beliau menyampaikan bahwa “konsep Agraria di Indonesia sangat menarik dari setiap perkembanganya pada setiap dekade di Indonesia, kita bisa mencari berbagai sumber agraria, pada salah satu lembaga riset yaitu ARC Bandung yang kompeten dalam setiap data-data mengenai berbagai masalah tentang agraria, dan dari anggota ARC ada yang datang pada konferensi ini yaitu Sityi, Rahmi, dan Lina”. Ungkapan seorang Indosianist seperti Pak Anton ini, patut dianggap sebagai ungkapan yang sungguh-sungguh, mengingat kiprahnya sebagai peneliti masalah-masalah sosial di Indonesia sudah sejak lama. Hal ini memberikan nilai tambah bagi ARC untuk bisa terus mempertahankan dan meningkatkan kualitasnya sebagai lembaga penelitian yang kritis dan berguna bagi kelompok-kelompok gerakan sosial di Indonesia.
Diikuti dengan diskusi yang disampaikan dua panelis, yaitu Dr. Haedar Nashir dengan tema “Radikalisasi Gerakan Keagamaan di Indonesia”, panelis ke dua Prof. Dr. Afrizal,. M.A  dengan tema “Gerakan Lingkungan di Indonesia”. Mereka menggambarkan tentang bagaimana fenomena keagamaan yang ada di Indonesia ini berasal dari kaum fundamentalis (NU dan Muhamaddiyah), yang akhirnya menimbulkan radikalisasi keagamaan di Indonesia, dan konsep gerakan lingkungan perlu diterapkan dalam konteks Indonesia, menilai banyak terjadi kerusakan lingkungan dimana-mana”

minang 2

Setelah itu, sesi diskusi dimulai yang terdiri dari 4 sesi parallel dengan masing-masing terdiri dari 5 tema spesifik. Sesi Paralel I terdiri dari tema-tema Gerakan Perempuan, Agraria, Buruh, Pendidikan dan tema Gerakan Sosial secara Umum; Sesi Paralel II terdiri dari tema-tema Gerakan Lingkungan, Petani/Nelayan, Kelompok Minoritas dan Marginal, Keagamaan dan Sosial dan Media; Sesi Paralel III terdiri dari tema Gerakan Politik, Keluarga dan Anak, Gaya Hidup, Pembangunan dan Gerakan Lingkungan; Sesi Paralel IV membahas tema Gerakan Perempuan, Komunitas, Pemuda/Mahasiswa, Kesetaraan Gender dan Pendidikan Transformatif.
Tiga peneliti ARC berada di sesi parallel yang berbeda-beda. Sityi Maesarotul Qori’ah mempresentasikan makalah berjudul “Strategi Penghidupan Warga Dusun Bonto di Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan” di sesi parallel I kategori Gerakan Agraria, Rahmi Indriyani mempresentasikan tentang temuannya yang berjudul “Kesetaraan dan Keadilan Gender di Kampung Burungayun Banyuresmi-Garut” di sesi parallel IV kategori Kesetaraan Gender, dan Lina Marina Rohman dengan papernya yang berjudul “Gerakan Rakyat Melawan Proses Pembangunan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang Jawa Barat” di sesi parallel II kategori Gerakan Lingkungan. Kami bersama-sama dengan pembahas lainnya diberikan kesempatan masing-masing 10-15 menit untuk memaparkan temuan penelitian kami.

minang 3

Di sesi parallel I, Sityi membedah tentang “strategi penghidupan masyarakat di sekitar pembangunan hutan Pinus di Dusun Bonto”. Pemaparan lebih banyak menjelaskan bagaimana masyarakat di Dusun Bonto bisa bertahan hidup dengan strategi melalui peran lembaga keagamaan yang berada di dusun Bonto, yaitu Tarekat Khalwatiyan Samman, sedangkan sumber daya lingkungan yang berada di sekitar lingkungan mereka semakin berkurang mengingat pinus telah mengambil sumber air mereka yang mereka pakai untuk menyiramI cengkeh yang menjadi sumber penghidupan warga dusun Bonto. Setelah itu, peserta memberikan tanggapan serta pertanyaan kepada setiap peserta. Terhadap pemaparan tentang Dusun Bonto salah satu peserta yang berasal dari Universitas Hasanuddin menanggapi tentang pemaparan terkait peran kelembagaan yang ada di dusun tersebut, serta bagaimana kemudian cara atau strategi mempertahankan keberadaan lembaga keagamaan yang berada di Dusun Bonto.

Di sesi pararel IV Rahmi, rahmi membedah mengenai “Keadilan dan Kesetaraan Gender di Kampung Burungayun Sukakarya-Banyuresmi Kabupaten Garut”. Penjelasan utama dalam pembahasan ini adalah bahwa kesetaraan dan keadilan gender tidak akan pernah terjadi apabila kaum perempuannya sendiri “menolak” atas konsep kesetaraan itu. Faktor utama kemustahilan terjadinya kesetaraan dan keadilan gender banyak dipengaruhi oleh konsep agama (khususnya PERSIS) dan kultur budaya Sunda yang berkembang. Pada saat sesi pertanyaan dimulai terlihat banyak dari peserta yang tertarik untuk bertanya, terutama dari 2 penanya yang langsung bertanya dan menanggapi bagaimana akhirnya kesetaraan gender terhambat akibat kultur PERSIS. Pertanyaan ini memberikan masukan untuk perbaikan paper ini.

minang 4

Lina Marina Rohman dengan papernya yang berjudul “Gerakan Rakyat Melawan Proses Pembangunan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat”, di sesi parallel II dengan tema ‘Gerakan Lingkungan’. Pemaparannya fokus pada pembahasan bagaimana perlawanan rakyat Jatigede dimulai sejak era pemerintahan OrdeBaru, era Reformasi dan terus berlanjut hingga sekarang. Alat analisisnya adalah konsep-konsep yang berkembang dalam teori gerakan sosial sehingga gerakan perlawanan tersebut terus muncul. Yang pertama, konsep kesempatan politik dan, kedua mobilisasi sumber daya, selain juga membahas faktor-faktor penyebab munculnya perlawanan rakyat tersebut. Selesai memaparkan isi paper, seluruh peserta yang hadir diberikan kesempatan untuk menanggapi apa yang telah dibahas oleh pemakalah. Satu peserta diantaranya memberikan tanggapan sekaligus pertanyaan yang ditujukan langsung atas kasus ini, yaitu kasus ini memperlihatkan bagaimana hubungan negara dan pengusaha sebagai pihak yang berlawanan dengan rakyat, juga usulan untuk menguraikan lebih jauh dinamika perlawanan rakyat Jatigede untuk menentang proyek pembangunan di Sumedang tersebut.
Rangkaian acarapun selesai, dan ditutup dengan rangkaian acara City Tour. Selama City Tour berlangsung, kami mengelilingi kota Padang dan melakukan kunjungan ke Universitas Andalas, termasuk mengunjungi salah satu sentra oleh-oleh yang direkomendasikan panitia. Hampir seluruh peserta mengikuti agenda acara ini, sehingga membuat kami saling mengenal lebih dalam dalam suasana yang lebih santai.

minang 5
Konferensi Nasional Sosiologi V di hotel Bumi Minang Padang ini, meninggalkan kesan yang mendalam bagi kami (peneliti muda), yang masih belum banyak pengalaman penelitian, diantaranya dapat mengenal para sosiolog yang sudah terjun lebih dulu didalam melakukan penelitian, dan dapat belajar banyak dari berbagai pengalaman mereka. Proses belajar selama terlibat di ARC telah membuka kesempatan untuk belajar lebih banyak dalam kesempatan ini. Arahan dan bimbingan yang luar biasa selama penyusunan paper untuk Konferensi ini, khususnya dari Hilma Safitri M.A, yang juga sebagai koordinator ARC, merupakan hal yang sangat berharga bagi kami untuk terus berkarya dan menggali potensi diri kami untuk menjadi seorang Sosiolog dan peneliti yang baik.  Lebih dari itu, semoga apa yang kami perbuat dapat berguna bagi dunia ilmu pengetahuan dan bagi kemajuan bangsa ini melalui kajian-kajian kritis yang kami lakukan bersama ARC.

Bandung, 27 Mei 2016
Rahmi Indriyani, Sityi Maesarotul Qoriah dan Lina Marina R.